Masa Kecil
Jika biografi, seperti dikatakan banyak orang adalah rangkaian peristiwa penting bagi kehidupan seorang tokoh, maka kampung Ampel Ketapang, Adiguno tentunya mempunyai arti penting bagi Sjaichu, sebab di daerah inilah bayi lelaki yang kemudian diberi nama Achmad Sjaichu itu untuk pertama kalinya melengkingkan jeritannya. Ampel, sebuah perkampungan di Surabaya, Jawa Timur yang sarat dengan nilai-nilai kesantrian adalah daerah tumpah darahnya.
Di daerah ini Islam mulai tersebar, perlahan-lahan tapi pasti ke berbagai daerah di pesisir pulau Jawa. Ampel memang seperti pelita batin bagi kaum beriman di Jawa. Sisa-sisa kehidupan keagamaan seperti itulah yang masih dialami Sjaichu kecil. Selasa Wage, 29 Juni 1921 M, itulah hari lahir Sjaichu, putra bungsu dari dua bersaudara (Achmad Rifa'i dan Achmad Sjaichu) dari pasangan keluarga bahagia (H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah).
Sjaichu kecil, seperti juga kebanyakan anak Ampel kala itu, rajin belajar mengaji, bermain kelereng, gobak sodor, dan shalat berjama'ah di Masjid Ampel. Bahkan, sering kali Sjaichu yang masih anak-anak naik ke menara Masjid Ampel yang cukup tinggi menjelang Subuh untuk mengumandangkan Tarhim.
Ketika Sjaichu menginjak usia 2 tahun, ayah kandung yang amat menyayanginya, H. Abdul Chamid meninggal dunia. Kemudi rumah tangga lalu di ambil alih oleh Hj. Fatimah, ibu kandung Sjaichu. Kala itu, fatimah yang sudah menjanda harus berjuang membesarkan Rifa'i dan Sjaichu. Kepergian H. Abdul Chamid kiranya cukup terasa bagi keluarga tersebut.
Kedua anak yatim itu di didik ibunya dengan tekun. Terutama diusahakan agar mampu mengaji Al-Qur'an dengan baik. Mula-mula Sjaichu bersama abangnya, Rifa'i, dititipkan untuk belajar mengaji Al-Qur'an kepada K. Said, ustadz bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Belum sampai khatam, kedua anak yatim itu pindah mengaji kepada K. Mas Muhammad. Ustadz yang membimbing pengajian Al-Qur'an merasa puas mendapat murid bernama Sjaichu. Tepat di usia 7 tahun, Sjaichu sudah khatam Al-Qur'an 30 Juz. Ia sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar pada usia tersebut.
Ketika Sjaichu dalam usia itu, Hj. Fatimah mulai merasakan beban yang kian berat, tiba waktunya Sjaichu masuk sekolah. Ibu ini tak lagi mampu menghidupi diri dan anak-anaknya yang masih kecil tanpa seorang pendamping. Untuk meringankan bebannya itu, akhirnya Hj. Fatimah menerima pinangan dari seorang lelaki yang masih tetangga dengannya, yaitu H. Abdul Manan. Pada tahun 1927, resmilah H. Abdul Manan menjadi ayah tiri Sjaichu dan kakaknya. Dari Abdul Manan, Hj. Fatimah mempunyai seorang putri yaitu Chadidjah.
Achmad Sjaichu mula-mula di sekolahkan di sekolah Mardi Oetomo, kemudian pindah ke Madrasah Taswirul Afkar yaitu sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur dan KH. Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai embrio NU setelah Nahdlatul Wathan di Kawatan, Surabaya. Sjaichu belajar di sekolah ini hingga tamat, tahun 1934.
Pada waktu yang bersamaan, H. Abdul Manan meninggal dunia. Untuk beberapa lama, Sjaichu terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena secara ekonomi keadaan keluarganya tidak memungkinkan. Selama menganggur itulah Sjaichu mencoba bekerja untuk meringankan beban ibunya. Selama dua tahun ia bekerja di perusahaan sepatu milik Pak de-nya, Mohammad Zein bin H. Syukur.
Setelah mempunyai bekal yang dianggap cukup dari hasil bekerjanya selama dua tahun, Sjaichu kembali ke bangku sekolah. Kali ini ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan HOS Tjokroaminoto pada tahun 1918. Di sini Sjaichu mulai menunjukkan bakat-bakat kepemimpinannya.
Sambil belajar di Nahdlatul Wathan, Sjaichu kembali tertarik untuk nyambi bekerja pada seorang penjahit kenamaan di daerah Pacar Keling, Surabaya, yaitu Mohammad Yasin. Selama dua tahun ia bekerja di sana, mulai dari belajar memegang jarum sampai bisa menjahit dan membuat desain sendiri.
Di Nahdlatul Wathan, Sjaichu mempunyai seorang guru yang tak bisa dilupakan jasa-jasanya. Guru tersebut adalah KH. Abdullah Ubaid. Dari Kyai muda inilah Sjaichu mendapat pelajaran Bahasa Arab. Ia tidak saja mendalami teori atau gramatikalnya, melainkan juga cara berkomunikasi. Selain KH. Abdullah Ubaid, di Nahdlatul Wathan Sjaichu juga mendapat bimbingan dari Kyai alim di Surabaya, yaitu KH. Ghufron. Sjaichu belajar Ilmu Fiqh dari kyai ini.
Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Sjaichu kembali punya ayah baru. Adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah terpanggil untuk menjadi bapak dari ketiga anak yatim yang sedang tumbuh itu, setelah beliau melihat kondisi keluarga Hj. Fatimah. Ulama besar yang kala itu dikenal sebagai pemuka dan pendiri Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), kemudian membulatkan niat untuk menjadi pengganti H. Abdul Chamid, menikahi janda Fatimah dan membimbing Sjaichu beserta kakak dan adiknya.
Sejak itu Sjaichu bukan lagi pemuda biasa, ia adalah putera ulama pendiri NU. Sejalan dengan keinginan Sjaichu untuk menjadi pemuka agama, kehadiran KH. Wahab Chasbullah bukan saja menciptakan suasana tenang, melainkan juga pendorong ampuh untuk mewujudkan cita-citanya.
Menurut penuturan Hj. Chodidjah, adik Sjaichu satu ibu lain bapak, sejak di Madrasah Nahdlatul Wathan, Sjaichu mulai dijadikan panutan oleh teman-teman sekelasnya. Seringkali teman Sjaichu berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk mengadakan Muthala'ah.
Selain memiliki kecerdasan yang di atas rata-rata temannya, Sjaichu juga mempunyai kebiasaan berpakaian necis. Penampilan sehari-harinya sangat berbeda dengan kawan-kawan sekampung dan seperguruan. Sejak di Nahdlatul Wathan, Sjaichu punya kebiasaan sholat malam dan memelihara wudhu. Kebiasaan itu tetap dipertahankan hingga menjelang akhir hayatnya.
Masa Kecil
Jika biografi, seperti dikatakan banyak orang adalah rangkaian peristiwa penting bagi kehidupan seorang tokoh, maka kampung Ampel Ketapang, Adiguno tentunya mempunyai arti penting bagi Sjaichu, sebab di daerah inilah bayi lelaki yang kemudian diberi nama Achmad Sjaichu itu untuk pertama kalinya melengkingkan jeritannya. Ampel, sebuah perkampungan di Surabaya, Jawa Timur yang sarat dengan nilai-nilai kesantrian adalah daerah tumpah darahnya.
Di daerah ini Islam mulai tersebar, perlahan-lahan tapi pasti ke berbagai daerah di pesisir pulau Jawa. Ampel memang seperti pelita batin bagi kaum beriman di Jawa. Sisa-sisa kehidupan keagamaan seperti itulah yang masih dialami Sjaichu kecil. Selasa Wage, 29 Juni 1921 M, itulah hari lahir Sjaichu, putra bungsu dari dua bersaudara (Achmad Rifa'i dan Achmad Sjaichu) dari pasangan keluarga bahagia (H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah).
Sjaichu kecil, seperti juga kebanyakan anak Ampel kala itu, rajin belajar mengaji, bermain kelereng, gobak sodor, dan shalat berjama'ah di Masjid Ampel. Bahkan, sering kali Sjaichu yang masih anak-anak naik ke menara Masjid Ampel yang cukup tinggi menjelang Subuh untuk mengumandangkan Tarhim.
Ketika Sjaichu menginjak usia 2 tahun, ayah kandung yang amat menyayanginya, H. Abdul Chamid meninggal dunia. Kemudi rumah tangga lalu di ambil alih oleh Hj. Fatimah, ibu kandung Sjaichu. Kala itu, fatimah yang sudah menjanda harus berjuang membesarkan Rifa'i dan Sjaichu. Kepergian H. Abdul Chamid kiranya cukup terasa bagi keluarga tersebut.
Kedua anak yatim itu di didik ibunya dengan tekun. Terutama diusahakan agar mampu mengaji Al-Qur'an dengan baik. Mula-mula Sjaichu bersama abangnya, Rifa'i, dititipkan untuk belajar mengaji Al-Qur'an kepada K. Said, ustadz bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Belum sampai khatam, kedua anak yatim itu pindah mengaji kepada K. Mas Muhammad. Ustadz yang membimbing pengajian Al-Qur'an merasa puas mendapat murid bernama Sjaichu. Tepat di usia 7 tahun, Sjaichu sudah khatam Al-Qur'an 30 Juz. Ia sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar pada usia tersebut.
Ketika Sjaichu dalam usia itu, Hj. Fatimah mulai merasakan beban yang kian berat, tiba waktunya Sjaichu masuk sekolah. Ibu ini tak lagi mampu menghidupi diri dan anak-anaknya yang masih kecil tanpa seorang pendamping. Untuk meringankan bebannya itu, akhirnya Hj. Fatimah menerima pinangan dari seorang lelaki yang masih tetangga dengannya, yaitu H. Abdul Manan. Pada tahun 1927, resmilah H. Abdul Manan menjadi ayah tiri Sjaichu dan kakaknya. Dari Abdul Manan, Hj. Fatimah mempunyai seorang putri yaitu Chadidjah.
Achmad Sjaichu mula-mula di sekolahkan di sekolah Mardi Oetomo, kemudian pindah ke Madrasah Taswirul Afkar yaitu sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur dan KH. Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai embrio NU setelah Nahdlatul Wathan di Kawatan, Surabaya. Sjaichu belajar di sekolah ini hingga tamat, tahun 1934.
Pada waktu yang bersamaan, H. Abdul Manan meninggal dunia. Untuk beberapa lama, Sjaichu terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena secara ekonomi keadaan keluarganya tidak memungkinkan. Selama menganggur itulah Sjaichu mencoba bekerja untuk meringankan beban ibunya. Selama dua tahun ia bekerja di perusahaan sepatu milik Pak de-nya, Mohammad Zein bin H. Syukur.
Setelah mempunyai bekal yang dianggap cukup dari hasil bekerjanya selama dua tahun, Sjaichu kembali ke bangku sekolah. Kali ini ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan HOS Tjokroaminoto pada tahun 1918. Di sini Sjaichu mulai menunjukkan bakat-bakat kepemimpinannya.
Sambil belajar di Nahdlatul Wathan, Sjaichu kembali tertarik untuk nyambi bekerja pada seorang penjahit kenamaan di daerah Pacar Keling, Surabaya, yaitu Mohammad Yasin. Selama dua tahun ia bekerja di sana, mulai dari belajar memegang jarum sampai bisa menjahit dan membuat desain sendiri.
Di Nahdlatul Wathan, Sjaichu mempunyai seorang guru yang tak bisa dilupakan jasa-jasanya. Guru tersebut adalah KH. Abdullah Ubaid. Dari Kyai muda inilah Sjaichu mendapat pelajaran Bahasa Arab. Ia tidak saja mendalami teori atau gramatikalnya, melainkan juga cara berkomunikasi. Selain KH. Abdullah Ubaid, di Nahdlatul Wathan Sjaichu juga mendapat bimbingan dari Kyai alim di Surabaya, yaitu KH. Ghufron. Sjaichu belajar Ilmu Fiqh dari kyai ini.
Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Sjaichu kembali punya ayah baru. Adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah terpanggil untuk menjadi bapak dari ketiga anak yatim yang sedang tumbuh itu, setelah beliau melihat kondisi keluarga Hj. Fatimah. Ulama besar yang kala itu dikenal sebagai pemuka dan pendiri Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), kemudian membulatkan niat untuk menjadi pengganti H. Abdul Chamid, menikahi janda Fatimah dan membimbing Sjaichu beserta kakak dan adiknya.
Sejak itu Sjaichu bukan lagi pemuda biasa, ia adalah putera ulama pendiri NU. Sejalan dengan keinginan Sjaichu untuk menjadi pemuka agama, kehadiran KH. Wahab Chasbullah bukan saja menciptakan suasana tenang, melainkan juga pendorong ampuh untuk mewujudkan cita-citanya.
Menurut penuturan Hj. Chodidjah, adik Sjaichu satu ibu lain bapak, sejak di Madrasah Nahdlatul Wathan, Sjaichu mulai dijadikan panutan oleh teman-teman sekelasnya. Seringkali teman Sjaichu berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk mengadakan Muthala'ah.
Selain memiliki kecerdasan yang di atas rata-rata temannya, Sjaichu juga mempunyai kebiasaan berpakaian necis. Penampilan sehari-harinya sangat berbeda dengan kawan-kawan sekampung dan seperguruan. Sejak di Nahdlatul Wathan, Sjaichu punya kebiasaan sholat malam dan memelihara wudhu. Kebiasaan itu tetap dipertahankan hingga menjelang akhir hayatnya.

